The right man on the right place, The right man on the right job. Masih ingat ucapan dosen kita saat belajar Manajemen SDM? Ya, perlunya menempatkan diri sendiri dalam porsi nge-job yang sesuai dengan background kita. Kalau tidak, seperti hadits bilang, tunggulah kehancurannya, kalau kita bukan ahli di bidangnya.
Lalu bagaimana jika kita memang hobi melakukan sesuatu? Misalnya hobi komputer, padahal kita anak akuntansi? manajemen? Ya, itu namanya hobi, namun kita tidak bisa disebut ahli di bidang komputer. Ada bedanya hobi dengan ahli. Hobi bisa dimulai dari coba-coba, tidak harus serius untuk mampu melakukannya. Kalau ahli, memang harus serius dari awal, lalu menekuni secara mendalam, filosofislah. Kemudian ia menjadi kiblatnya orang banyak, tempat bertanya, dikerumuni orang, dan menjadi juru kunci pemecahan masalah di bidang yang dia kuasai.
Ingat Habibie, ahli pesawat terbang? Ia menjadi panutan orang di bidang teknologi aeronautika, bahkan diakui oleh Jerman akan kepiawaian ilmunya. Ingat juga Ibnu Sina, ahli kedokteran Islam, yang buku dan pemikirannya menjadi referensi mahasiswa-mahasiswa kedokteran sampai saat ini, Barat juga mengakuinya. Ingat Einstein, ahli fisika modern yang terkenal dengan Teori Relativitas-nya, siapa yang tidak menganggapnya ahli?
Namun, kadang-kadang kita tidak ahli di suatu bidang tetapi hobi melakukannya. Salahkan? Sah-sah saja. Bisa jadi hobi mampu mendukung pekerjaan kita, bahkan mungkin bisa menjadi sumber penghasilan lebih besar dibanding penghasilan yang sesuai dengan bidang kita dalami selama ini. Hanya saja perlu dipikirkan, itu mungkin bersifat pragmatis, sesaat saja dan tidak strategis, apalagi untuk melakukan sesuatu yang menyangkut harkat martabat orang banyak. Kecuali...kita hanya berpikir untuk kantong dan memperbesar perut sendiri, atau sekedar mencari sensasi seperti selebritis, biar terkenal. Sekali lagi sah-sah saja, kita bebas berbuat sekehendak sendiri, namun perlu juga sesekali intropeksi diri, kata lain dari bercermin.
Jadi, apakah pekerjaan kita harus sesuai dengan latar belakang pendidikan kita? Mungkin agak susah di zaman ini untuk bisa seperti itu di Indonesia. Lalu jika berbeda dengan background apakah job kita tidak bisa sukses? Tidak juga, kita bisa menjadi ahli tidak harus dari pendidikan formal, sebab alam dan lingkungan ini adalah sarana pembelajaran.
Tapi perlu kembali diingat, bahwa jika kita berniat jadi ahli atau menguasai di bidang tertentu, harus benar-benar serius dan tidak setengah-setengah. Kita perlu membuat membuat planing baru, untuk menjadi ahli baru. Kita perlu re-visi, mulai belajar serius, menekuni secara mendalam, dan melakukannya. Artinya untuk menjadi ahli, kita harus mulai lagi belajar dari nol walau tak dari lembaga formal seperti kuliah. Kalau tidak, ya sama saja dengan nol.
Perlu dipikirkan juga, sekarang zaman globalisasi, orang-orang dari luar bebas bekerja di negara kita. Jika kita tidak berkompeten di bidang kita, tentu kita akan menjadi kuli-kuli persis seperti kuli barang di Belawan. Mereka jadi manajer-manajernya yang berpenghasilan besar. Kita menjadi pembantu di rumah sendiri. Menyakitkan.
Mumpung masih belum terlambat, masih pada kuliah, mari persiapkan diri ke depan. Biar kita bisa menjadi seperti apa yang selalu diucapkan dosen MSDM, The right man on the right place, The right man on the right job.

