20080512

BBM naik, pedagang kecil terjepit

by: Ikhvan Fuady (Eccent Editor)
http://ivan-pejuangmuda.blogspot.com

BBM Naik, Pedagang Kecil Makin Terjepit.
ikhvan faudy
MedanBisnis-Medan

Kebijakan pemerintah untuk menaikkan BBM pada awal bulan Juni 2008, sudah dikumandangkan pada awal Mei bulan yang sama. Pemerintah sempat memberikan pernyataan untuk tidak menaikkan harga BBM sampai akhir 2008, kini seperti menjilat ludah sendiri. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak perlu waktu lama untuk memberikan pernyataan menaikkan BBM pada awal bulan Juni, dari pernyataan awalnya untuk tidak akan menaikkan BBM sampai akhir tahun 2008.

Kebijakan ini tentunya menimbulkan reaksi positif dan negatif dari masyarakat berbagai kalangan. Bagi para pihak pemegang saham, tentunya mereka tidak akan terlalu ambil pusing, mereka tinggal menaikkan ongkos produksi perusahaannya untuk menutupi pembengkakan biaya akibat naiknya BBM. Namun lain halnya dengan pihak pedagang kecil yang berada diposisi terjepit akan kenaikan ini, mereka dihadapkan pada persoalan yang rumit, antara menaikkan ongkos produksi atau mengurangi volume produksi.

Bagi para pedagang kecil, dampak kenaikan BBM diawal Juni ini sangatlah besar, mengingat sebahagian besar biaya yang mereka keluarkan adalah biaya transportasi. Biaya Operasional yang mereka keluarkan akan bertambah besar seiring naiknya harga BBM.

”Kalau harga minyak naik, ongkos angkutan akan naik pula, mau tidak mau kami terpaksa mengurangi jumlah barang dagangan kami, atau kami naikkan harga barang yang kami jual,” kata Pontas Siregar, ketua perhimpunan pedagang pasar-pasar (P4) kota Medan.
Pontas yakin, kebijakan pemerintah menaikkan BBM hanya menyengsarakan rakyat dan pedagang kecil saja, menurutnya, rakyat dan pedagang kecillah yang paling merasakan dampak negatif Dari kenaikan harga BBM.

“Bayangkan saja, naiknya BBM akan menurunkan daya beli masyarakat, kalau daya beli masyarakat turun, pasar pun akan sunyi dari pembeli,” ujar nya.
Pedagang di pusat pasar kota Medan hanya bisa tunduk dan patuh mengikuti kebijakan pemerintah ini. Mereka pasrah dan akan memikirkan cara agar tetap survive dari keadaan yang mereka nilai semakin menjepit mereka, “jika semua biaya naik akibat BBM naik, saya terpaksa mengefisiensi seluruh biaya opersional yang saya keluarkan, mungkin saja saya memecat karyawan,” kata Agung Nainggolan, salah seorang pedagang pakaian anak-anak di pusat pasar Medan.

Para pedagang di kota Medan bahkan sudah merasakan dampak “kebijakan yang kurang populer” itu sejak isu nya mulai berhembus pada akhir bulan mei sampai dikeluarkan nya keputusan pemerintah. “ Dua, tiga hari ini (2-5 Mei 2008) saja pasar sudah mulai sepi, padahal ini kan bulan muda (pegawai baru dapat gaji),” ujar Agung.

Harapan para pedagang tentunya pemerintah dapat melihat kondisi yang akan menimpa mereka dengan keputusan ini, tidak hanya mengambil keputusan tanpa memikirkan akibatnya. Kesengsaraan pedagang kecil tidak akan selesai begitu saja dengan segala macam kompensasi kenaikan BBM yang nantinya diprogramkan pemerintah. Pemberian kompensasi yang diberikan pemerintah hanya akan menambah persoalan baru jika tidak diarahkan dengan tepat sasaran.