oleh : Ikhvan Fuady, SE
Iblis, jika nama itu disebutkan maka kita akan membayangkan sesosok makhluk Allah Swt. sebagai pusat dari segala kejahatan. Iblis amat sombong, pembangkang, dengki dan semua sifat negatif berpusat padanya. Judul di atas mengundang tanda tanya besar, "Mengapa kita mesti belajar dari Iblis?"; "Bukankah masih banyak sumber belajar yang lain?".
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan diuraikan di dalam tulisan sederhana ini.Kita harus membedakan dua terminologi yang kelihatannya sama namun sebenarnya berbeda; pertama, "belajar kepada"; kedua, "belajar dari". Apakah perbedaan kedua terminologi itu? "Belajar kepada", terminologi ini memberi kesan bahwa kita menjadikan seseorang atau sesuatu sebagai guru. Contoh, "Saya belajar kepada Tuan Ahmad".
Di sini, Tuan Ahmad kita jadikan sumber tempat belajar. Selain itu, Tuan Ahmad merupakan panutan kita untuk satu atau beberapa bidang keilmuan. "Belajar dari", kesan yang ditimbulkan adalah bahwa kita mengambil sesuatu yang bermanfaat untuk diri kita dan kita terjemahkan dalam konteks kehidupan kita. Dalam kalimat, "Saya belajar dari mushibah yang menimpa dirinya", berarti kita mengambil hal-hal berguna yang terjadi pada dirinya. Begitu pula dengan kalimat, "Belajar dari iblis", istilah itu berarti ada sesuatu yang berguna bagi kita dari peristiwa yang dilakukan atau diucapkan iblis.Semua penciptaan Allah Swt. di langit dan di bumi merupakan tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Hal itu hanya dapat ditangkap oleh orang-orang yang berakal. Siapakah mereka? Yaitu orang-orang yang banyak mengingat Allah Swt. dalam setiap keadaan dan memikirkan semua penciptaan Allah Swt. Akhir dari pemikiran mereka tersimpul dalam sebuah kalimat, "…Rabbanaa maa khalakta hadzaa baathilaa/ Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia…." (QS. Ali-Imran/ 3: 190-192). Firman Allah Swt. ini memberikan kesan bahwa semua ciptaan-Nya akan memberikan manfaat kepada manusia, termasuk penciptaan iblis. Apakah yang perlu kita pelajari dari iblis? Perhatikan kisah berikut ini: "Iblis berkata, 'Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku ini sesat, aku pasti akan menjadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya.' " (QS. Al-Hijr/ 15: 39). Janji iblis yang lain sebagai berikut, "Iblis berkata, 'Ya Tuhanku, tangguhkanlah aku sampai pada hari mereka dibangkitkan.' " Iblis juga bersumpah, "…Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka." (QS. Sad/ 38: 79 dan 82). Ayat-ayat itu menjelaskan secara konkrit tentang "janji" dan "kesungguhan" iblis untuk menyesatkan manusia. "Janji" dan "kesungguhan" iblis itulah yang perlu kita ambil.
Jika iblis berjanji dan bersungguh-sungguh mengajak manusia ke neraka, mengapa kita tidak melakukan sebaliknya? Pertanyaan ini perlu untuk menjadi renungan bagi kita semua.Banyak sekali ayat al-Qur'an yang menyuruh kita berjanji dan bersungguh-sungguh dalam kebajikan. Karena janji dan kesungguhan akan membuahkan hasil yang diharapkan. Seorang pedagang kaki lima yang berjanji akan hemat dan bersungguh-sungguh dalam usahanya akan menjadi pedagang besar bahkan konglomerat raksasa. Orang yang bodoh jika berjanji memanfaatkan waktu dan bersungguh-sungguh dalam belajar pasti akan pintar.
Seorang pendurhaka jika berjanji tidak mengulangi perbuatan dosa dan bersungguh-sungguh dalam bertobat pasti akan menjadi orang yang dekat kepada Allah. Mengapa kita tidak berjanji dan bersungguh-sungguh untuk melakukan aneka macam kebajikan? Bukankah aneka macam kebajikan balasannya surga? Allah Swt. berfirman, "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum Allah ketahui orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan mengetahui orang-orang yang sabar." (QS. Ali-Imran/ 3: 142). Selain itu ayat tersebut menerangkan dua kunci surga, yaitu; jihad dan sabar. Apakah jihad itu? Secara sederhana jihad diartikan dengan bersungguh-sungguh mengerahkan potensi baik.
Manusia memiliki banyak sekali potensi baik, seperti; kasih, sayang, pemurah, dan pemaaf yang perlu untuk dikembangkan. Sedangkan sabar diartikan dengan menahan kehendak nafsu demi mencapai sesuatu yang baik atau lebih baik lagi. Termasuklah di sini sabar jasmani dan sabar ruhani. Semua potensi baik harus diwujudkan dengan sungguh-sungguh. Kesungguhan itu akan terwujud jika seseorang berjanji untuk sabar. Jadi, dengan kesungguhan dan janji untuk bersabar surga dapat diraih.Rasulullah Saw. juga selalu melaksanakan dua hal itu dalam dakwah beliau. Setiap pagi beliau shalat shubuh ke mesjid, namun setiap shalat itu pula seorang Yahudi meludahinya. Rasulullah Saw. tetap melaksanakan shalat itu secara konsisten dan ia sabar dengan teror si Yahudi. Pada shalat shubuh selanjutnya Rasulullah Saw.
tidak menerima perlakuan yang sama karena, setelah diketahui, si Yahudi itu sakit. Rasulullah Saw. mengunjunginya. Betapa terkejutnya si Yahudi pada saat itu dan ia berjanji untuk menjadi seorang muslim. Itulah contoh historis janji dan kesungguhan yang sudah beliau praktekkan. Buah yang dihasilkannya juga jelas, si Yahudi menjadi seorang muslim. "Tidak ada yang tidak bisa dilakukan", sebuah adagium (pepatah) yang perlu kita jadikan pedoman. Jika adagium itu kita lakukan dalam konteks perbuatan baik, bagaimana jadinya? Di sana sini kita akan selalu menjumpai praktek perbuatan baik. Suatu hari Rasulullah Saw. berkata kepada para sahabat, "Sebentar lagi akan datang kepada kalian calon penghuni surga." Sahabat semuanya heran, apakah gerangan amal yang sudah dilakukannya? Akhirnya sahabat tahu calon penghuni surga yang dikatakan Rasulullah Saw. tidak mempunyai niat buruk kepada orang lain. Ia bersungguh-sungguh dalam melakukannya.Jika iblis berjanji dan bersungguh-sungguh mengumpulkan pengikut sebanyak-banyaknya ke neraka, bisakah kita mencari pengikut menuju surga? Mencari pengikut (teman) untuk melakukan kebajikan akan memberi pahala berlipat ganda dan terminal akhirnya surga.
Rasulullah Saw. bersabda, "Barangsiapa yang melakukan kebajikan di dalam Islam akan diberikan pahala ditambah dengan pahala orang-orang yang mengikutinya…." Jika mencari pengikut terasa sulit sekali, maka diri kita yang harus berjanji dan bersungguh-sungguh melakukan kebajikan. Kesadaran individual yang demikian seharusnya kita tanamkan di dalam diri kita.Tersebutlah sebuah kisah, seorang tua yang rumahnya di pinggir pantai. Setiap pagi Pak Tua itu memunguti hewan kecil yang terdampar ke pinggir pantai oleh deburan ombak malam. Berbagai hewan kecil itu akan mati jika tidak bisa kembali ke laut lepas.
Maka setiap pagi Pak Tua memunguti hewan-hewan kecil untuk dilemparkan ke laut. Suatu kali datang anak kecil menertawakan yang dilakukan Pak Tua. Katanya, "Pak, bukankah kerjaan ini sia-sia belaka, karena pantai ini begitu panjang, dan jauh lebih banyak binatang laut yang tidak bisa Bapak selamatkan ketimbang yang bisa Bapak pungut yang jumlahnya mungkin hanya belasan?" Pak Tua pun menjawab, "Kalaupun toh aku tidak bisa menyelamatkan semuanya, maka aku merasa berkewajiban menyelamatkan sebisa-bisanya yang masih dalam jangkauanku." Demikianlah, jika kita tidak bisa mengajak orang lain berbuat baik menuju surga, yang pasti kita harus berjanji dan bersungguh-sungguh untuk berbuat aneka kebajikan sendiri. Tanpa adanya janji dan kesungguhan yang kuat kebajikan tidak mungkin terlaksana. Mari kita renungkan puisi berikut: "Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal. Aku bermimpi ingin mengubah dunia. Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku, kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah. Maka cita-cita itupun agak kupersempit. Lalu kuputuskan hanya mengubah negeriku. Namun tampaknya, hasrat itupun tiada hasilnya. Ketika usiaku telah semakin senja, dengan semangatku yang masih tersisa, kuputuskan untuk mengubah keluargaku, orang-orang yang paling dekat denganku.
Tetapi celakanya, merekapun tidak mau diubah. Dan kini, sementara aku berbaring saat ajal menjelang, Tiba-tiba kusadari, andaikan yang pertama-tama ku ubah adalah diriku, maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan, mungkin aku bisa mengubah keluargaku. Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi aku pun mampu memperbaiki negeriku. Siapa tahu, aku bahkan bisa mengubah dunia." Itulah janji dan kesungguhan untuk berubah. Jika iblis mempunyai janji dan kesungguhan yang kuat, mengapa kita tidak? Demikian semoga bermanfaat.
Fastabiquul Khairaat. Wallaahul Musta'aan

