20080920

Golongan Mana?

By Ikhvan Fuady

"apa sih bang, keuntungan jadi anggota imm?"
"kenapa kami harus memilih imm?"

Tentunya itu adalah sebagian kecil dari pertanyaan para mahasiswa baru di umsu ketika mereka "terpaksa" harus mengikuti masa ta'aruf (masta) saat masuk umsu. gampang-gampang susah memang untuk menjawab pertanyaan seperti ini jika kita melihat perkembangan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) saat ini.

Sebagai sebuah organisasi dakwah, IMM kini tengah diterpa badai yang sangat hebat. Namun sayangnya, tidak ada satu awak kapal termasuk nahkodanya yang benar-benar paham cara menahkodai kapal tersebut.selain itu, awak kapal yang ada diatas kapal itupun masih bingung, kearah mana kapal tersebut akan ditujukan agar selamat dan terhindar dari bahaya.

Besar dan bengisnya ombak yang menghantam dari sisi kiri dan kanan membuat kapal terombang-ambing tak tentu arah. Para awak yang tak punya kemampuan tadi hanya bisa ikut terlempar kemana ombak menghempaskan mereka. Coba kita perhatikan dengan jeli gerakan IMM saat ini. mirip kapal tadi bukan? tidak ada lagi gairah atau semangat gerakan Muhammadiyah dalam setiap gerakannya.

IMM hanya mengikuti arahan kepentingan para donatur yang siap membiayai segala macam acara seremonial yang menghiasi 90% agenda kerjanya.IMM juga hanya dijadikan batu loncatan guna mendapat tujuan tertentu. Yang konon katanya, kalau tak pernah ber-IMM, tidak akan mendapatkan hal tersebut. Jika sudah begini, apa masih bisa kita menjawab pertanyaan para mahasiswa baru diatas? tentunya kita akan bingung untuk menjawab, sebab kita sendiri semestinya bertanya serupa pada diri sendiri.

Malah yang saya khawatirkan,,, upaya kita untuk merekrut para kader baru, menjadi suatu dosa. Karena upaya tersebut malah menyeret orang tak bersalah kedalam suatu masalah yang bisa menyesatkannya... naudzu billahi min dzalik...Dia yang tadinya rajin dan patuh kepada orang tua... malah patuh kepada dosen dan senior (yang mengira dirinya bakalan jadi dosen). atau orang yang tadinya rajin belajar, malah nilainya anjlok akibat terlalu banyak kegiatan nongkrong tak jelas atas nama IMM.

Bukankah itu dosa namanya, menyeret dan membawa-bawa orang kepada sesuatu yang menyesatkan?Apalagi kalau kita mengajak sambil berbohong akan indahnya kehidupan ber IMM saat ini (padahal tidak indah sama sekali). contohnya seperti ini...kita berbohong kalau anak IMM itu bakalan mendapat beasiswa, padahal yang dapat beasiswa tersebut hanyalah segelintir pengurus saja (tahun lalu hanya 7 orang).

Atau kita berbohong akan bagusnya perkaderan IMM, padahal yang mengkader saja tak pernah ikut perkaderan yang jelas. bahkan didalam perkaderan IMM dua tahu belakangan, para instruktur hanya menggoda wanita saja.atau betapa bagusnya kekeluargaan di IMM, padahal sistem kekeluargaanya adalah "kaperlek" (kalau perlu pakek), dan lain sebagainya. (masih banyak kasus lainnya).

Jadi kawan2, apa masih bisa kita menjawab pertanyaan para mahasiswa baru tadi?Saya rasa kita perlu istiqomah untuk merubah segala kesalahan hari ini. Mari kita lepas embel-embel kebesaran seraya bertaubat kepada Allah sambil berjihad melakukan perubahan... Amien

Akhirul Kalam
Kitalah yang memilih, golongan mana kita berdiri...

Billahi fii sabilil Haq, Fastabiqul Khairat