Substansi Pedagogik Laskar Pelangi
oleh : Ikhvan Fuady
Substansi pembelajaran yang ingin disampaikan Andrea Hirata melalui bukunya yang berjudul Laskar Pelangi dinilai kurang terwakili oleh film yang di sutradarai oleh Riri Riza. Cerita mengenai kelamnya dunia pendidikan di Indonesia seharusnya lebih ditingkatkan ketimbang scene-scene yang penuh unsur hiburan dan kadang gak nyambung antara scene satu dengan yang lain (konon bahkan sebelum di edit).
Potongan demi potongan adegan yang kurang berhubungan masih terulang disana-sini mirip film otobiographi terdahulu film GIE yang hancur kualitas sinematografinya.
Namun begitu, film laskar pelangi ini kabarnya mendapat respon yang cukup bagus dari kalangan Muhammadiyah. Sebab dicerita tersebut, tergambarlah betapa mulia dan teguhnya cita2 Muhammadiyah untuk berjihad dibidang pendidikan.
Sayangnya keteguhan perjuangan Muhammadiyah dalam bidang pendidikan tersebut kini hanya sedikit yang terlihat di Indonesia. Sekolah2 Muhammdiyah sudah berorientasi kepada profit, apalagi universitas-universitasnya.
Bahkan sama sekali Tidak ada program beasiswa khusus bagi warga Muhammadiyah jika tidak memiliki hubungan (koneksi) dengan para pejabat kampus. Penghargaan terhadap organisasi Muhammadiyah yang nota bene adalah organisasi Islam tersebut juga tidak ditunjukkan oleh segenap civitas akademika universitas-universitas Muhammadiyah pada umumnya.
Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) kini sudah hampir sama dengan perguruan tinggi lain yang tidak memiliki nuansa keislaman. Sebagai contoh, tidak adanya kewajiban berjilbab bagi wanita dan hal-hal lainnya.
Pendek kata, kalau tak kaya tak bisa sekolah di univ. Muhammadiyah.
billahi fii sabilil haq, fastabiqul khairat

